Selasa, 24 September 2013

Indonesia Buka Puasa

Siapa yang tidak merasa lega dan bahagia merasakan nikmatnya berbuka puasa, mungkin itu juga lah yang sedang dirasakan seluruh pecinta bola Indonesia. Ya, kita baru saja menuntaskan dahaga gelar bergengsi di tingkat internasional setelah terakhir kali merasakan indahnya juara pada ajang sepakbola internasional resmi Sea Games 1991 di Manila, Philipina. Lama juga ya..
Adalah AFF Cup Under-19 yang menjadi trophy resmi yang semoga menjadi trophy pertama pembuka gelar juara lain untuk segera menyusul masuk ke lemari piala Federasi Sepakbola Indonesia yang tentunya sangat ditunggu kedatangannya.

Begini ceritanya..
Indonesia yang berada di Grup B satu grup bersama Brunei, Myanmar, Vietnam, Malaysia dan Thailand. Mengawali turnamen dengan cukup percaya diri, Pasukan Muda Garuda berhasil menggilas Brunei 5-0 di pertandingan pertama yang berlangsung di Gelora Delta Sidoarjo. Di pertandingan kedua mereka berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor tipis 2-1. Sebelum dikalahkan oleh Vietnam 1-2 di pertandingan ke-3. Dua hari berselang mereka berhasil bangkit dan mengalahkan Thailand 3-1, lewat hattrick dari kapten Evan Dimas Darmono. Di laga penentuan grup, mereka bersua tim negara tetangga, Malaysia. Sempat kesulitan dan tertinggal terlebih dulu, Indonesia mendapatkan gol penyama kedudukan untuk lolos ke semifinal. Di semifinal, Indonesia berjumpa "kawan lama" Timor Leste, mendominasi 90 menit pertandingan berlangsung Timnas Indonesia berhasil taklukan Timor Leste 2 gol tanpa balas. Lalu masuklah kita ke babak final dan kembali bertemu Vietnam yang mengalahkan kita di babak penyisihan grup. Pertandingan berlangsung seru dan sedikit keras karena pemain kita ternyata cukup kewalahan dengan gaya bermain lawan yang mengandalkan umpan pendek cepat, sedangkan kita hanya bisa menyerang dengan memanfaatkan serangan balik lewat winger-winger kita yang memiliki kecepatan. Sampai akhir 90 menit kedua tim masih berbagi angka 0-0, pertandingan pun dilanjutkan dengan adu penalti setelah babak tambahan 2x15 menit belum juga mendapatkan pemenang. Di adu penalti ini, kiper Indonesia Ravi Murdianto tampil gemilang dengan menggagalkan 2 tendangan pemain Vietnam, sebelum akhirnya Ilham Udin Armaiyn menjadi eksekutor penentu kemenangan istimewa Tim Nasional U-19 untuk pertama kalinya dalam kejuaraan bergengsi di Asia Tenggara ini.

Istimewa, mengapa saya sebut istimewa? Tidak berlebihan juga rasanya mengatakan itu melihat "penutup" musim kemarau piala kita dipersembahkan oleh bocah-bocah hebat, anak-anak muda harapan bangsa, Timnas U-19. Muda dan berbahaya..
Selain karena punggawa Tim Nasional yang masih berusia muda, hal istimewa lain dari "buka puasa" ini adalah ditentukan lewat adu penalti, kita punya cukup banyak "nyaris" di adu penalti ini. Di 1976 kita nyaris masuk Olimpiade di Kanada setelah kalah adu penalti dari Korea Utara, yang terbaru Timnas U-23 kita nyaris juara karena kalah dari Malaysia di Sea Games 2011 dan Timnas U-16 yang juga nyaris juara di AFF Cup U-16 di 2013. Meskipun tidak lama setelahnya akhirnya Evan Dimas dan kawan-kawan berhasil membuat sejarah baru dan menjuarai turnamen lewat adu penalti. Selamat..

Yang berlalu biarlah berlalu, satu yang pasti adalah Timnas Sepakbola Indonesia sudah berhasil memutus kutukan selalu jadi yang kedua disetiap kejuaraan. Dan semoga prestasi ini tidak hanya dipertahankan, tapi juga berhasil dilanjutkan di turnamen internasional lainnya. Bukan tidak mungkin, asalkan Garuda Muda ini terus dilatih dan diasah menjadi lebih baik, saya yakin pasti kita bisa.
Terima Kasih Garuda Muda. Bravo Sepakbola Indonesia!

Berikut adalah Skuad Timnas Indonesia di AFF Cup U-19 2013:
  1. RAVI MURDIANTO (GK) - Perserang Serang
  2. RULLY DESRIAN (GK) - PPLP Padang
  3. PUTU GEDE JUNI ANTARA (CB/RB) - Diklat Ragunan
  4. HANSAMU YAMA PRANATA (CB) - SAD/Deportivo Indonesia
  5. MUHAMAD SAHRUL KURNIAWAN (CB) - Persinga Ngawi
  6. FEBLY GUSHENDRA (CB) - Diklat Ragunan
  7. MUHAMMAD FATCHU ROCHMAN (LB) - Persekap Pasuruan
  8. DIMAS SUMANTRI (RB) - PSDS Deli Serdang
  9. MAHDI FAHRI ALBAAR (LB) - SAD/Deportivo Indonesia
  10. M. HARGIANTO (DM) - Diklat Ragunan
  11. ZULFIANDI (DM) - PSSB Bireuen
  12. HENDRA SANDI GUNAWAN (CM) - Persiraja Banda Aceh
  13. ALQOMAR TEHUPELASURY (CM) - Nusa Ina
  14. EVAN DIMAS DARMONO (CM) - Persebaya
  15. PAULO OKTAVIANUS SITANGGANG (CM) - Jember United
  16. ILHAM UDIN ARMAIYN (WINGER) - Diklat Ragunan
  17. MALDINI (WINGER) - SAD/Deportivo Indonesia
  18. MUHAMMAD DIMAS DRAJAD (STRIKER) - Gresik United U-21
  19. MUCHLIS HADI NING SYAIFULLOH (STRIKER) Persekap Pasuruan
  20. DINAN YAHDIAN JAVIER (STRIKER) - SAD/Deportivo Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Desain Grafis

Pengertian Desain Grafis
Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. disain grafis diterapkan dalam disain komunikasi dan fine art. Seperti jenis disain lainnya, disain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metode merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), ataupun disiplin ilmu yang digunakan (desain).

Sejarah Desain Grafis
Sejarah desain grafis dapat ditelusuri dari jejak peninggalan manusia dalam bentuk lambang-lambang grafis (sign & simbol) yang berwujud gambar (pictograf) atau tulisan (ideograf). Gambar mendahului tulisan karena gambar dianggap lebih bersifat langsung dan ekspresif, dengan dasar acuan alam (flora, fauna,landscape dan lain-lain). Belum ada yang tahu pasti sejak kapan manusia memulai menggunakan gambar sebagai media komunikasi. 

Pada manusia primitif sudah menggunakan coretan gambar di dinding gua untuk kegiatan berburu binatang. Contohnya seperti yang ditemukan di dinding gua Lascaux, Perancis. Lambang/ aksara sebagai alat komunikasi diawali oleh bangsa Punesia (+ 1000 tahun SM), yang saat itu menggunakan bentuk 22 huruf. Kemudian disempurnakan oleh bangsa Yunani (+ 400 tahun SM) antara lain dengan mengubah 5 huruf menjadi huruf hidup. Kejayaan kerajaan Romawi di abad pertama yang berhasil menaklukkan Yunani, membawa peradaban baru dalam sejarah Barat dengan diadaptasikannya kesusasteraan, kesenian, agama, serta alfabet Latin yang dibawa dari Yunani. Pada awalnya bangsa Romawi menetapkan alfabet dari Yunani tersebut menjadi 21 huruf : A, B, C, D, E, F, G, H, I, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, V, dan X, kemudian huruf Y dan Z ditambahkan dalam alfabet Latin untuk mengakomodasi kata yang berasal dari bahasa Yunani. Tiga huruf tambahan J, U dan W dimasukkan pada abad pertengahan sehingga jumlah keseluruhan alfabet Latin menjadi 26.

Gambar 1.1 Coretan di Dinding Lascaux Cave, Montignac, Perancis

Gambar 1.2

Kata Desain Grafis pertama kali digunakan pada tahun 1922 di sebuah esai berjudul New Kind of Printing Calls for New Design yang ditulis oleh William Addison Dwiggins, seorang desainer buku Amerika.
Raffe's Graphic Design, yang diterbitkan pada tahun 1927, dianggap sebagai buku pertama yang menggunakan istilah Desain Grafis pada judulnya The signage in the London Underground adalah contoh desain klasik pada abad modern yang menggunakan jenis huruf yang dirancang oleh Edward Johnston pada tahun 1916.

Pada tahun 1920, Aliran konstuktivisme di Uni Soviet melihat seni yang berorientasi individu tidak ada gunanya bagi Rusia dan membuat sesuatu yang dapat diterapkan di dunia nyata. Mereka mendesain bangunan, perangkat teater, poster, kain, pakaian, perabot, logo, menu, dll.
Jan Tschichold merumuskan prinsip-prinsip dasar tipografi modern pada tahun 1928 dalam bukunya yang berjudul New Typography. Tschichold, Bauhaus,Herbert Bayer and Laszlo Moholy-Nagy, and El Lissitzky adalah tipografer yang berpengaruh besar dalam ilmu desain grafis yang kita kenal sekarang ini. Mereka mempelopori teknik produksi yang digunakan sepanjang abad ke 20. Pada tahun-tahun berikutnya desain grafis mendapat banyak pengakuan dan mulai banyak diterapkan. Pasca Perang Dunia II, kebutuhan akan desain grafis meningkat pesat, terutama untuk periklanan dan kemasan produk. Perpindahan Sekolah Bauhaus dari Jerman ke Chicago pada tahun 1937 membawa pengaruh besar pada desain di Amerika. Nama- nama yang terkenal diantaranya Adrian Frutiger(desainer jenis huruf Univers dan Frutiger), Paul Rand(yang dari akhir 1930-an sampai kematiannya pada tahun 1996 menggunakan prinsip Bauhaus dan menerapkannya padaiklan dan desain logo.

Pada tahun 1447, Johannes Gutenberg (1398-1468) menemukan teknologi mesin cetak yang bisa digerakkan dengan model tekanan menyerupai disain yang digunakan di Rhineland, Jerman, untuk menghasilkan anggur. Ini adalah suatu pengembangan revolusioner yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya rendah, yang menjadi bagian dari ledakan informasi pada masa kebangkitan kembali Eropa. Tahun 1450 Guterberg bekerjasama dengan pedagang dan pemodal Johannes Fust, dibantu oleh Peter Schoffer ia mencetak “Latin Bible” atau disebut “Guterberg Bible”, “Mararin Bible” atau “42 line Bible” yang diselesaikanya pada tahun 1456. Temuan Gutenberg tersebut telah mendukung perkembangan seni ilustrasi di Jerman terutama untuk hiasan buku. Pada masa itu juga berkembang corak huruf (tipografi). Ilustrasi pada masa itu cenderung realis dan tidak banyak icon. Seniman besarnya antara lain Lucas Cranach dengan karyanya “Where of Babilon”

Pada perkembangan berikutnya, Aloys Senefelder (1771-1834) menemukan teknik cetak Lithografi. Berbeda dengan mesin cetak Guterberg yang memanfaatkan tehnik cetak tinggi, teknik cetak lithografi menggunakan tehnik cetak datar yang memanfaatkan prinsip saling tolak antara air dengan minyak. Nama lithografi tersebut dari master cetak yang menggunakan media batu litho. Tehnik ini memungkinkan untuk melakukan penggambaran secara lebih leluasa dalam bentuk blok-blok serta ukuran besar, juga memungkinkan dilakukannya pemisahan warna. Sehingga masa ini mendukung pesatnya perkembangan seni poster. Masa keemasan ini disebu-sebut sebagai “The Golden Age of The Poster”. Tokoh-tokoh seni poster tehnik lithogafi (1836-1893) antara lain Jules Cheret dengan karya besarnya “Eldorado: Penari Riang” (1898), “La Loie Fuller: Penari Fuller” (1897), “Quinquina Dubonnet” (1896), “Enu des Sirenes” (1899). Tokoh-tokoh lainya antara lain Henri de Toulouse Lautrec dan Eugene.

Pada saat ini perkembangan teknologi desain grafis sudah sangat maju dengan adanya peralatan dan media digital yang serba canggih. Sesorang tidak harus pandai dalam seni melukis untuk bisa membuat sebuahkarya desain grafis. Misalnya dengan media komputer, manusia bisa membuat sebuah hasil karya desain grafis dengan mudah dan sekaligus bisa langsung mencetaknya mulai dari ukuran yang paling kecil hingga super besar dengan mesin cetak yang canggih. Dengan berbagai software editor desain, juga semakin memudahkan manusia.

Sejarah Desain Grafis di Indonesia
Perkembangan desain di Indonesia di mulai pada tahun 1970, dimana pada saat itu telah terjadi peristiwa yang diberi nama Desember Hitam, peristiwa ini pecah di penghujung tahun 1974. Desember Hitam muncul karena adanya gelombang protes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi sebagai bercorak ragam sama (seragam) yaitu dekoratif, dan lebih mengabdi kepada kepentingan ‘konsumtif’.
Gerakan Desember Hitam adalah awal terbentuknya gerakan seni rupa baru GSRB pada tahun 1975, GSRB memiliki pemahaman bahwa kesenian tidak harus dikategorikan menurut jenjang, ada kesenian kelas wahid dan ada kesenian kelas bawah (amatir). GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun dianggap sederajat. Sepanjang perjalanannya (1975-1979, 1987), eksponen GSRB yang juga desainer grafis tercatat antara lain FX Harsono, Syahrinur Prinka (1947-2004), Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, Gendut Riyanto (1955-2003), Harris Purnama dan Oentarto.

Organisasi desain grafis pertama di Indonesia, sepanjang tahun 1970 bermunculan perusahaan desain yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis, namun perbedaannya pada masa itu adalah biro-biro ini memfokuskan diri pada desain non-iklan dan semuanya berlokasi di Jakarta, berikut adalah beberapa biro desain tersebut  : 

Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, S Prinka), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi, Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution). Dan pada dekade berikutnya, di Jakarta muncul antara lain Gugus Grafis (FX Harsono, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan, Djodjo Gozali), Headline (Sita Subijakto), BD+A (Irvan Noe’man), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (Markoes Djajadiningrat), Studio “OK!” (Indarsjah Tirtawidjaja) dan lain-lain.

Referensi:
Wikipedia 
http://desxripsi.blogspot.com/sejarah-desain-grafis 
www.ar7ikel.com/sejarah-desain-grafis-di-indonesia